vegetarian a.k.a vegan

TECHNICS MECHANICALS KUANTUM DISCHOPERYING THE UNDER WORLD

5Vegetarian adalah suatu kebiasaan untuk tidak memakan daging yang sangat baik dan semakin mendapat tempat di masyarakat karena tidak sedikit orang yang mendapatkan manfaat dari segi kesehatan setelah mereka menjalankan vegetarian.

Pada saat ini kita mengenal ada tiga kebiasaan ber vegetarian yaitu :

a) Vegetarian murni dimana seseorang sama sekali tidak memakan daging hewan maupun produk dari hewan seperti susu, telur maupun mentega

b) b. Lacto ? ovo vegetarian dimana seseorang hanya tidak memakan daging hewan namun mereka masih mengkonsumsi produk hewan seperti susu, telur maupun produk dari susu dengan beranggapan bahwa memakan produk dari hewan ini tidak membunuh hewan itu sendiri

c) c. Vegetarian yang hanya memakan buah-buahan saja. Cara bervegetarian ini lebih keras dari vegetarian murni karena mereka tidak mengkonsumsi sayur-mayur, biji-bijian namun hanya memakan buaj-buahan saja

Namun saat sekarang ada orang yang menjalan separuh vegetarian dengan memakan daging berwarna putih seperti ayam, ikan sedangkan mereka menghindari daging berwarna merah sperti daging sapi, kambing, babi dan lainnya.

Mengingat banyaknya umat Buddha yang melaksanakan vegetarian maka timbul anggapan bahwa agama Buddha menganjurkan vegetarian. Terlebih lagi umat Buddha sekte tertentu dengan lantang menganjurkan vegetarian ini.

Pandangan agama Buddha terhadap vegetarian.

Dalam Lakavantara Sutra, yang merupakan salah satu sutra mahayana, dianjurkan untuk melaksanakan vegetarian. Namun mengingat saya tidak mendalami Mahayana maka saya tidak memiliki kemampuan untuk membahasnya dari segi mahayana Didalam Theravada, Sang Buddha tidak melarang umatnya untuk memakan daging namun melarang umatnya untuk membunuh.

Larangan untuk membunuh telah sangat jelas tercantum dalam panca sila agama Buddha yang merupakan panduan dasar bagi umat Buddha dalam menjalankan hidup ini. Sila untuk menghindari pembunuhan merupakan sila yang pertama bagi umat Buddha Sedangkan ijin dari sang Buddha terhadap makanan yang berasal dari hewan dapat dilihat dalam kisah berikut ini.

Seorang Jendral yang kaya dan berpengaruh bernama Siha (berarti Singa) merupakan pendukung dari petapa Jain tetapi ia begitu terkesan atas ajaran sang Buddha dan ia meminta tisarana sehingga ia menjadi umat Buddha Suatu saar jendral siha mengundang Sang Buddha beserta sejumlah besar Bhikkhu untuk menyantap makanan pagi. Dalam menyiapkan makanan, Siha menuruh pelayannya untuk membeli daging dari pasar untuk upacara tersebut.

Ketika pertapa Jain mendengar bahwa jendral Siha yang merupakan penyokong utamanya telah mengundang sang Buddha. Mereka menyebarkan berita bahwa banyak binatang dibunuh oleh jendral Siha demi santapan pertapa Gautama (sebutan mereka kepada sang Buddha). Pembunuhan tersebut dilakukan deminya

Siha telah mengetahui perbedaan antara membeli daging yang dijual dengan memesan bintang untuk dibunuh dan dijadikan santapan.Untuk menjelaskan mengenai prilaku memakan daging tersebut diatas, maka sang Buddha berkata ?:

Para Bhikkhu, saya mengijinkan kamu untuk memakan ikan dan daging yang murni dalam tiga hal yaitu : jika mereka tidak terlihat, terdengar atau dicurigai telah dibunuh untuk Bhikkhu “na bhikkave jâna.m udissakata ma.msa.m paribhunjitabba.m. Anujânâmi bhikkave tiko.tiparisuddha.m maccama.msa.m adi.t.ta.m asuta.m aparisankitan ti [V I 233])”

Kisah diatas dikutip dari Vinaya Pitaka (Mahâvagga, VI, 31-2; the conversion of General Siha)

Makanan yang memenuhi 3 persyaratan diatas dikenal sebagai pavattamasa sedangkan makanan dari hewan yang dibunuh untuk dipersembahkan kepada seseorang dikenal sebagai uddissakatamasa

Cerita diatas ditegaskan kembali dalam Jivaka sutta :

"Jivaka, mereka yang mengatakan mereka membunuh makhluk hidup untuk petapa Gotama dan petapa Gotama dengan sadar makan daging (binatang) yang dibunuh dengan maksud dan khusus menyediakannya untuk Beliau --- pernyataan ini tidak mengutip kata-kata-Ku, namun salah mewakilkan-Ku dengan hal yang tak benar, dengan

fakta yang salah. Jivaka, saya mengatakan bahwa dalam tiga kondisi daging tak dimakan, yaitu: jika (pembunuhan) itu dilihat, didengar dan diduga (pembunuhan dilakukan demi seorang bhikkhu). Jivaka, berdasarkan pada tiga kondisi ini saya katakan daging tidak boleh dimakan. Jivaka, tetapi saya mengatakan bahwa dalam tiga kondisi daging dapat dimakan, yaitu jika (pembunuhan) itu tidak dilihat, tidak didengar dan tidak diduga (pembunuhan dilakukan demi seorang bhikkhu). Jivaka, berdasarkan pada tiga kondisi ini, saya nyatakan daging dapat dimakan.

Selain cerita diatas, ada sebuah kisah dimana devadatta (sepupu sang Buddha yang menjadi Bhikkhu dengan kesaktian yang hebat namun tidak mencapai kesucian ) menganjurkan para Bhikkhu untuk ber vegetarian . Devadatta menganjurkan vegetarian demi merebut jabatan kepala Bhikkhu sehingga seakan-akan ia lebih suci dari sang Buddha dengan mengajarkan larangan untuk memakan daging hewan.

Sang Buddha menolak ide dari Devadatta dan sekali lagi menegaskan peraturan yang dibuatnya bertahun-tahun sebelumnya bahwa para Bhikkhu dan Bhikkhuni boleh memakan ikan atau daging selama dari binatang yang dilarang dan selama mereka tidak mempunyai alasan untuk mempercayai bahwa bintang tersebut dibunuh untuk dipersembahkan kepada mereka

Apakah sang Buddha memakan daging binatang ?

Dalam sutta theravada diketahui bahwa sang Buddha bukanlan seorang vegetarian dan beliau tidak memaksakan umatnya bahkan para Bhikkhu untuk menjadi vegetarian.

Salah satu kisah yang menerangkan sang Buddha bukanlah seorang vegetarian adalah kisah berikut ini.

Uppalavanna (berarti wanita yang kecantikannya menyerupai bunga teratai) merupakan salah satu dari dua siswi utama dari sang Buddha. Ia ditasbihkan menjadi bhikkhuni ketika ia masih remaja dan tidak lama kemudian ia menjadi arahat. Selain sebagai seorang arahat, ia juga memiliki beberapa kemampuan bhatin yang luar biasa sehingga Buddha menyebutnya sebagai yang utama diantara siswi sang Buddha.

Suatu ketika, Uppalavanna sedang bermeditasi sendirian di ?Hutan pria buta?, Hutan terpencil diluar kota savatthi. Beberapa pencuri melewati hutan tersebut dan mereka membawa sapi curian untuk dibunuh. Setelah membunuh sapi tersebut mereka melihat sang bhikkhuni dan ia meletakkan daging tersebut pada daun lalu diberikan kepadanya..

Uppalavanna menerima daging tersebut dan berjanji untuk mempersembahkan kepdda sang Buddha. Keesokan paginya, ia terbang kehadapan sang Buddha di hutan bamboo di luara Rajagaha. Tempat ini berjarak sekitar 200 Km dari savatthi.

Dikatakan bahwa sang Buddha memakan daging persembahan uppalavanna dan uppalavanna tentunya dengan kekuatan bahthin mengetahui dengan jelas apa yang dipersembahkan.

Dikutip dari Vinaya Nissaggiya Pacittiya 5

Apa saja yang dilarang oleh sang Buddha ?

Walaupun sang Buddha tidak melarang umatnya untuk memakan daging bintang namun ada 4 jenis daging tertentu yang dilarang untuk dimakan. Daging-daging tersebut adalah :

1. Daging manusia

2. Daging Gajah dan Kuda

3. Daging Anjing

4. Daging ular singa, harimau, macan kumbang, beruang dan hyena

Keempat jenis daging tersebut dikategorikan sebagai akappiya atau makanan yang tidak pantas dimakan.

Tidak ada catatan mengapa ke empat jenis daging tersebut dilarang dimakan namun Ajahn Bramavamso (dalam What the Buddha said about eating meat) menduga

bahwa:

  1. Daging manusia, sudah sepantasnya bahwa manusia tidak memakan daging manusia
  2. Daging Gajah dan Kuda , dianggap sebagai binatang kerajaan
  3. Daging Anjing dianggap menjijikan
  4. Daging ular singa, harimau, macan tutul, beruang dan hyena karena akan mengundang pembalasan binatang dari species yang sama

Apa akibatnya bila seorang umat Buddha membunuh

bintang dan dipersembahkan kepada para Bhikkhu?

Sang Buddha menyatakan bahwa perbuatan demikian dikategorikan sebagai perbuatan buruk yang menimbun kamma buruk. Hal ini di jelaskan dalam jivaka sutta :

"Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup untuk Tathagata atau murid Tathagata adalah menimbun banyak kamma buruk (apunna) dalam lima cara yaitu dalam halini, ketika ia berkata: 'Pergi dan tangkap seekor binatang', inilah cara pertama ia menimbun banyak kamma buruk. Selanjutnya, sementara binatang itu ditangkap, binatang ini menderita kesakitan dan tekanan batin sebab kerongkongannya terasa sakit, inilah cara kedua menimbun kamma buruk. Begitu pula ketika ia berkata: 'Pergi dan bunuh binatang itu', inilah cara ketika ia menimbun banyak kamma buruk. Sementara binatang itu dibunuh, binatang itu mengalami kesakitan dan penderitaan, inilah cara keempat ia menimbun banyak kamma buruk. Demikian pula, bilamana ia memberi kepada Tathagata atau muridnya sesuatu yang tidak pantas diberikan, inilah cara kelima ia menimbun kamma buruk. Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup (binatang) untuk Tathagata atau muridnya adalah menimbun kamma buruk dalam lima cara ini."

Mengapa memakan daging berbeda dengan membunuh dalam

pandangan Dhamma?

Untuk mengerti jelas perbedaannya kita perlu mengerti dengan jelas Hukum karma. Sang Buddha berkata bahwa kamma adalah kehendak. Selama tidak ada kehendak makatidak akan ada kammanya.

Sebuah perbuatan dikatakan membunuh bila memenuhi ke 5 syarat berikut ini:

  1. pano ? adanya mahkluk hidup.
  2. panasannita ? seseorang mengetahui keberadaan makhluk hidup.
  3. vadhacittam ? kehendak untuk membunuh.
  1. upakkamo ? adanya usaha untuk membunuh.
  2. tena maranam ? adanya mahkluk yang terbunuh

Bila tidak timbul kehendak untuk membunuh maka tidak akan terjadi pembunuhan oleh orang tersebut. Bila terjadi pembunuhan maka perbuatan itu dilakukan tanpa disadarinya atau oleh orang lain dan tidak termasuk dalam kategori pembunuhan

Sebagai contoh adalah cerita berikut ini :

Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan sang thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati. "Iiih, mengapa banyak serangga yang mati di

sini?" seru seorang bhikkhu. "Ah, jangan-jangan...", celetuk yang lain. "Jangan-jangan apa?" sergah beberapa bhikkhu. "Jangan-jangan ini perbuatan sang thera!" jawabnya. "Kok bisa begitu?" tanya yang lain lagi. "Begini, sebelum sang thera berdiam di sini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin sang thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya". "Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!" seru beberapa bhikkhu. "Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya", timpal

sebagian besar dari bhikkhu tersebut. Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa "Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!" Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, "Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?" "Tidak bhante", jawab mereka serempak. Sang Buddha kemudian menjawab, "Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh".

Diambil dari kisah Dhammapada atthakatha 1:1

Dalam hal diatas, ada dua syarat yang hilang yaitu adalah :

1. panasannita ? Bhante cakkhupala thera tidak mengetahui keberadaan makhluk hidup.

2. vadhacittam ? kehendak untuk membunuh. Sehingga ia tidak melakukkan pembunuhan

Sekarang bila kita membeli daging dari bintang yang telah dibunuh dan memakannya maka ada dua syarat pembunuhan yang hilang bagi diri kita yaitu :

1. panasannita ? seseorang mengetahui keberadaan makhluk hidup.

2. vadhacittam ? kehendak untuk membunuh. Sehingga secara Dhamma tidak ada pembunuhan yang dilakukan oleh kita

Hal yang berbeda bila kita memesan binatang untuk dibunuh dengan tujuan apapun maka sudah ada kehendak dari kita untuk membunuh dan ada instruksi dari kita untuk dilakukan pembunuhan sehingga sudah ada kamma yang muncul walaupun kita tidak melaksanakannya sendiri. Inilah Dhamma yang dipahami oleh jendral siha dalam cerita diatas

Sehingga sang Buddha sangat menentang pengorbanan atau pembunuhan binatang bagi para dewa maupun mahkluk adi kuasa lainnya karena dua hal yaitu :

a. Ada mahkluk yang menderita karena terbunuh dan tidak ada mahkluk yang mau dibunuh walaupun demi apapun juga

b. Sang pelaku pengorbanan akan memetik kamma buruk karena ia sudah berkehendak untuk melakukan pembunuhan walaupun bukan ia sendiri yang melakukan atau ia melakukan demi para dewa atau makhluk adi kuasa apapun juga

Mengapa sang Buddha tidak menganjurkan para Bhikkhu untuk bervegetarian saja ?

Para Bhikkhu tidak boleh mempunyai mata pencaharian dan tugas mereka hanyalah berusaha untuk mencapai kesucian untuk mempertahankan kehidupan mereka maka mereka harus disokong oleh umat.

Para Bhikkhu sendiri merupakan ladang untuk menanam jasa yang luar biasa sehingga perbuatan baik dari umat dengan memberikan 4 kebutuhan dasar kepada para Bhikkhu dapat memberikan kebahagiaan berlimpah.

Namun para Bhikkhu mempunyai aturan dasar yang ditetapkan oleh sang Buddha dan harus di ikuti yaitu:

1. Tidak boleh meminta makanan yang mereka sukai sehingga apapun makanan yang dipersembahkan, mereka harus menerimanya dan tidak boleh menolak. Sehingga makanan yang berasal dari daging bila dipersembahkan mereka harus menerimanya

2. Siapapun yang berdana maka mereka harus menerimanya sehingga bila seseorang yang ber profesi penjagal hewan sekalipun bila berdana mereka harus menerimanya

Dengan aturan dasar tersebut mereka tidak dapat meminta kepada umat bahwa mereka hanya mau menerima makanan yang vegetarian saja dan bila makanan berasal dari binatang mereka akan menolak.

Dikisahkan bahwa seorang Bhikkhu terpaksa untuk tidak memakan daging dari seekor ayam kalkun karena orang berdana tersebut berkata bahwa mereka special memilih ayam kalkun tersebut untuk dipersembahkan kepadanya sehingga beliau hanya memakan nasi dengan sup kodok yang tidak lezat sama sekali dari petani miskin karena ia telah mengetahui bahwa ayam kalkun tersebut dibunuh untuk dipersembahkan kepadanya

Bila seorang Bhikkhu hanya bisa menerima makanan vegetarian maka dapat dibayangkan betapa repotnya umat karena mereka harus memasak special untuk Bhikkhu. Dengan tidak adanya peraturan tersebut, maka umat Buddha dinegara Buddhist dapat berdana dengan hanya menyisihkan makanan mereka sehari-hari atau membeli makanan dipinggir jalan begitu mereka bertemu dengan Bhikkhu dan ingin berdana.

Bila sang umat hanya memakan makanan vegetarian dan mereka mempersembahkannya kepada para bhkkhu maka makanan tersebut juga akan diterima tanpa pengecualian dan tidak akan ditolak. Bila seluruh umat manusia tidak membunuh binatang dan tidak ada daging yang dijual dimanapun maka seorang umat Buddha tidak akan pernah membunuh atau meminta orang lain untuk membunuh demi makanan enak

Apakah tidak bervegetarian akan menghambat pencapaian kesucian ?

Bila vegetarian merupakan salah satu keharusan maka vegetarian akan menjadi salah pilar utama seperti panca sila buddhist dalam ajaran Buddha. Atau paling tidak akan menjadi suatu anjuran utama dari sang Buddha

Dalam sutta Tipitaka berbahasa pali, tidak ada satu suttapun dari Sang Buddha yang jelas-jelas mengajarkan mengenai vegetarian

Selain itu dengan bervegetarian seseorang tidak akan menjadi suci bila tidak mengikuti 8 jalan yang mulia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa umat Buddha yang tidak bervegetarian tidak akan terhambat pencapaian kesuciannya bila dibandingkan yang bervegetarian

Dengan alasan tersebut diatas pulalah maka sang Buddha tidak pernah menganjurkan umat Buddha untuk ber vegetarian karena Dhamma hanya mengajarkan jalan untuk mencapai kesucian

Bolehkah umat Buddha menjadi seorang vegetarian?

Bila ada umat Buddha yang bervegetarian dengan alasan kesehatan, tradisi, mengurangi nafsu dan kemelekatan terhadap daging maka tindakan ini tidak pernah dilarang oleh sang Buddha. Bila ia bervegetarian dengan beranggapan bahwa dengan ia bervegetarian maka akan semakin sedikit (berkurang) hewan yang dibunuh karena konsumen dari penjagal berkurang satu. Maka ia harus dipuji.Bila ia merasa kasihan atas hewan yang dibunuh dan ia merasa bahwa ia harus mengembangkan rasa belas kasihannya kepada para hewan yang dibunuh maka ia dihormati.

Namun Vegetarian tidak bisa diterapkan bagi semua umat sehingga sang Buddha tidak menganjurkannya terlebih lagi memaksa umatnya untuk bervegetaria


0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58 :59 :60 :61
:62 :63

Poskan Komentar

thanks for apresiasi