Titik Hitam Penyebab Badai Matahari??

TECHNICS MECHANICALS KUANTUM DISCHOPERYING THE UNDER WORLD



Sebenernya artikel ini sudah lama ingin saya buat, karena terbatasnya waktu akhirnya tertunda pula lah saya menulis artikel ini. Penyebab keingin tahuan saya karena prediksi dari kalender maya yang saya buat sebelumnya. Titik hitam pada matahari diketahui baru-baru ini semakin membesar. Dan seperti presiksi kalender maya, yah sangat tepat sekali, matahari memiliki titik hitam yang di sinyalir sebagai penyebab badai matahari, kemarin nonton berita di TvOne, saya melihat sebuah rekaman ledakan matahari. Jilatan api matahari mencapai 700.000 Km.

Dan dari prediksi, pada tahun 2012 jilatan api ini akan mencapai bumi kita, dari situlah muncul berbagai isu tentang kiamat yang akan terjadi. Berbagai rumor menyebar didunia maya, hal ini tidak bisa dikontrol. Dan menyebabkan kecemasan dilingkungan masyarakat. Kenapa judul artikel ini adalah sebuah pertanyaan??

yah karena belum ada yang dapat memastikan hal ini. Jika anda semakin bingung, mari kita simak lebih lanjut.

James Klimchuk dan koleganya di Goddard Space Flight Center di Greenbelt NASA, membuat model teori nanoflare untuk menjawab hal itu.

“Perputaran korona adalah blok pembuat dasar korona. Bentuknya dihasilkan oleh medan magnet yang menuntun aliran gas panas disebut plasma,” katanya.

Perputaran itu terbentuk dari tabung magnet kecil yang memiliki suhu mencapai beberapa jutaan derajat Kelvin (K), meskipun permukaan matahari hanya 5.700 derajat K.

Nanoflare merupakan ledakan tiba-tiba energi yang terjadi di tabung medan magnet tipis di korona.

Beda dengan lidah matahari, yang bisa dilihat dengan satelit serta teleskop di bumi dan mengganggu elektronik dan jaringan komunikasi, nanoflare kecil tidak bisa diuraikan secara invidual. Nanoflare hanya bisa dilihat efek dari gabungnnya.

Model Klimchuk coba mensimulasi apa yang terjadi saat nanoflare meledak. “Kami menyimulasikan ledakan panas dan memprediksi perputaranya akan seperti apa saat dilihat dengan bermacam instrumen,” katanya.

Untuk mengujicoba model itu, tim mengamati emisi gas di korona matahari menggunakan X-Ray Telescope and Extreme Ultraviolet Imaging Spectrometer yang didanai NASA dan aad di wahana Jepang Hinode.

“Suhu 10 juta derajat kami deteksi di korona hanya bisa dihasilkan oleh ledakan energi spontan,” kata Klimchuk.

matahari

Muncul prediksi, bintik hitam di matahari bisa lenyap pada 2015. Padahal diprediksikan 2012 jilatan ledakan matahari mencapai bumi. Selama berminggu-minggu, Badan Antariksa Nasional AS (NASA) mengamati, matahari tampil tanpa sedikit pun titik hitam (sunspot ) di dalamnya. Hal ini mengundang pertanyaan para ahli, sebab fenomena minimnya aktivitas matahari telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Aktivitas matahari saat ini masih berada dalam periode minimum, di mana aktivitas matahari tidak terlalu tinggi.

Rendahnya aktivitas matahari pun memicu tanda tanya, apakah ini berarti puncak siklus matahari akan bergeser? Sebelumnya para ahli memperhitungkan, puncak aktivitas matahari akan jatuh pada 2010. Namun karena hingga tahun lalu aktivitas matahari belum menunjukkan peningkatan, maka perkiraan ini digeser menjadi 2012. Bahkan perhitungan lain menunjukkan, puncak aktivitas matahari akan terjadi pada 2013. Puncak aktivitas matahari akan ditandai dengan makin tingginya frekuensi badai matahari.”Saya berpendapat bahwa titik hitam ini akan kembali,” ujar Matt Penn, peneliti pada Observasi Matahari Nasional (NSO) di Tucson, Arizona. Rekan Penn dari NSO, Bill Livingstone, yang mempelajari medan magnet matahari selama 17 tahun terakhir, menemukan tren baru yakni kekuatan magnet pada titik hitam itu.

Terlihat adanya lingkaran besar berwarna hitam yang mengitari matahari. Namun di luar lingkaran hitam tersebut adalah awan biasa
pada sekitar jam 11 – 12 tgl 27 september 2007.Setelah melihat adanya . lingkaran hitam yang mengitari matahari itu, banyak warga merasa terkejut sekaligus takut akan terjadi suatu musibah. dan yg aneh di tengah-2 matahari ada titik hitam.
“Matahari bersinar terik. Tetapi di sekitar matahari terlihat lingkaran besar hitam yang cukup membuat beberapa orang ketakutan,”

Waktu dikonfirmasikan kepada seorang Astronom di Observatorium Bosscha Lembang, M Irfan, lingkaran hitam tersebut disebut dengan HALO. Dalam Bahasa Yunani, HALO berarti lingkaran atau bola.

“Biasa kita amati kalau cuaca yang sangat terang, lingkaran hitam tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang dan tidak berbahaya. ” kata M Irfan pada saat di konfirmasikan tentang hal ini.

Ketika ditanya apakah lingkaran tersebut akan menimbulkan tanda-tanda gejala alam tertentu, M Irfan membantahnya. Pasalnya lingkaran hitam tersebut merupakan peristiwa biasa seperti halnya pelangi.

Apakah ada gejala alam atau akan terjadi apakah?

Matahari telah melalui puncak aktivitas siklus 11 tahunannya. Namun, ledakan besar yang menghasilkan lidah api di permukaanya bisa terjadi kapan saja termasuk yang terjadi Selasa (5/12).

Lidah api dipancarkan dari bintik hitam raksasa di permukaan Matahari yang diberi nomor 929. Bintik hitam ini terletak di bagian paling kiri permukaan Matahari yang berhadapan dengan Bumi.

Pancaran yang sangat besar terlihat pada pukul 10.35 GMT atau pukul 17.35 WIB. Namun, bintik hitam ini akan berotasi ke tengah dalam beberapa hari ini dan mungkin menghasilkan pancaran yang lebih besar. Hal ini bisa mengganggu medan elektromagnetik Bumi mengingat lidah api bisa menimbulkan badai elektromagnetik atau badai Matahari.

Lidah api ini diklasifikasikan sebagai tipe X-9. Kelas X merupakan tipe pancaran dengan magnitudo besar yang dapat merusak satelit dan mengganggu sistem telekomunikasi di Bumi. Ia juga bisa membahayakan astronot yang sedang berada di luar angkasa.

NASA telah meminta para astronot yang berada di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) untuk melakukan perlindungan ekstra ketat terhadap peralatan penting yang mungkin paling terpengaruh. Kegiatan spacewalk yang dilakukan langsung di luar angkasa juga dihindari selama terjadinya badai Matahari.

Padahal NASA akan meluncurkan wahana ulang aliknya Discovery ke ISS Kamis (7/12) malam waktu Florida atau Jumat (8/12) padi WIB. Para ilmuwan menyatakan radiasi yang ditimbulkannya merupakan salah satu ancaman misi peluncuran ke luar angkasa di masa depan termasuk upaya pembangunan di Bulan yang telah dilucnurkan NASA.

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Gejala-gejala Alam

Gejala-gejala alam yang biasa kita saksikan, telah diterangkan Allah SWT dalam kalamnya, misalnya :

“Atau seperti hujan lebat dari awan disertai gelap gulita, guruh, dan kilat”. (S. Al-Baqarah : 19).

Ayat ini menunjukkan bahwa awan yang menyebabkan hujan lebat adalah awan yang mencegah cahaya yang menembusnya. Hujan ini biasanya diikuti pula oleh guruh dan petir.[6]

1. Gelap mendahului terang

Dalam surat al-An’am ayat 1, disebutkan :

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang”.

Dalam surat al-An’am ini dijelaskan bahwa bumi memiliki dua waktu, yakni siang dan malam. Ini disebabkan adanya proses rotasi bumi yang terjadi selama 24 jam dalam satu putaran, menyebabkan bagian bumi yang terkena cahaya matahari mengalami waktu siang (terang) dan yang tidak terkena matahari mengalami waktu malam (gelap).

2. Bintang sebagai petunjuk jalan

Surat al-An’am ayat 97 :

“Dan Dai-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya penunjuk jalan dalam kegelapan di darat dan di laut”.

Ayat ini memperlihatkan bahwa bintang-bintang yang digunakan untuk mentukan arah di darat, dan bukan planet-planet. Ini digunakan oleh para musafir pada waktu dulu di padang pasir dan di tengah lautan sebagai petunjuk jalan. Karena perputaran bumi mengitari garis kelilingnya sekali dalam sehari, maka bintang-bintang kelihatan bergerak di angkasa dari timur ke barat. Beberapa di antaranya muncul dari segala arah di ufuk timur, kemudian bintang-bintang itu bergerak ke atas di angkasa hingga mencapai ketinggian maksimum pada waktu melewati khatulistiwa.

3. Badai laut

Badai sebagai salah satu gejala alam juga dijelaskan dalam al-Qur’an dalam surat an-Nur ayat 40 yang artinya berbunyi :

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan, gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun”.[7]

Badai merupakan gejala alam yang luar biasa, berupa angin lebat terjadi di daerah laut disertai dengan gelapnya awan, yang dalam ayat tersebut dijelaskan apabila mengeluarkan tangan saja kita tidak bisa melihatnya.

Ok kita kembali lagi ke topik pembahasan. Sebelumnya saya akan memberikan sedikit penjelasan.
Suhu Matahari
Menurut para ahli astronomi modern yang mempelajari keberadaan bintang-bintang di jagat raya ini, matahari kita adalah salah satu bintang diantara 100.000.000 bintang yang ada pada suatu kelompok atau galaksi yang disebut dengan kelompok bintang “Milky Way”. Matahari sebenarnya adalah suatu bintang yang besarnya termasuk rata-rata dibandingkan dengan ukuran bintang-bintang lainnya. Banyak bintang lainnya yang ukurannya jauh lebih besar dari pada ukuran matahari kita. Diameter matahari 1.400.000 kilometer yang berarti 100 kali diameter bumi. Gravitasi matahari lebih kuat dari pada gravitasi di bumi, yaitu 28 kali lebih kuat dari pada gravitasi bumi. Cahaya bintangpun ada yang jauh lebih terang yang berarti suhunya juga jauh lebih panas dari pada suhu matahari kita.

Matahari tampak sangat besar dibandingkan dengan bintang-bintang yang tersebar di jagat raya ini karena letaknya yang relatif sangat dekat dengan bumi, yaitu sekitar 150.000.000 kilometer. Bintang yang paling dekat dengan bumi adalah bintang Alpha Centauri yang jaraknya 40.000.000.000.000 kilometer dari bumi. Bagaimana kedudukan matahari terhadap bumi dan planet-planet lainnya dalam tata surya kita dapat dilihat pada Gambar 1. Matahari sebagai dapur nuklir menghasilkan panas yang sangat amat tinggi hasil dari reaksi thermonuklir yang terjadi di matahari. Suhu pada pusat matahari (pada inti) diperkirakan mencapai lebih dari 14.000.000 ºC, sedangkan suhu permukaannya relatif dingin, yaitu sekitar 5.000 – 6.000 ºC. Struktur matahari terdiri atas beberapa bagian, yaitu yang ada di pusat disebut “inti matahari”, kemudian bagian antara inti matahari sampai dengan permukaan matahari disebut “photosphere”. Pada permukaan terdapat bagian yang disebut dengan “sunspots” yang tampak lebih gelap, karena suhunya memang relatif lebih dingin dibandingkan dengan bagian lain. Sunspots bersuhu sekitar 4000 ºC, lebih dingin bila dibandingkan dengan suhu pada permukaan matahari, sehingga wajar bila tampak lebih gelap kalau dilihat dengan “coronagraph”.
Atmosfer Matahari

Atmosfir matahari terletak di atas permukaan matahari yang sebagian besar berupa gas Hidrogen. Atmosfir matahari terdiri atas 2 bagian utama, yaitu “chromospher” dan “corona”. Bagian chromosphere dapat mencapai ketebalan 12.000 kilometer dari permukaan matahari, sedangkan bagian corona tampak bagaikan mahkota berwarna putih yang melingkari matahari. Corona dapat mencapai ketinggian ratusan ribu bahkan dapat sampai jutaan kilometer dari permukaan matahari.

Suhu pada chromosphere dan pada corona sangat jauh berbeda. Chromosphere yang terletak pada permukaan matahari bersuhu kurang lebih 5.000 ºC, sedangkan suhu pada daerah corona dapat mencapai sekitar 10.000 – 100.000 ºC, atau bahkan dapat lebih tinggi lagi. Suhu corona yang jauh lebih panas dari pada suhu chromosphere, padahal letaknya lebih jauh dari inti matahari sempat menimbulkan pertanyaan diantara para ahli astronomi dan astrofisika. Suhu yang lebih tinggi pada bagian corona ternyata disebabkan karena adanya “kejutan gelombang yang sangat kuat” yang berasal dari gerakan turbulen photosphere yang memanaskan lapisan gas pada corona. Selain dari itu, pada permukaan chromosphere sering terjadi lidah api akibat letusan ataupun ledakan gas yang ada pada permukaan chromosphere. Letusan atau ledakan yang menimbulkan lidah api ini sering disebut dengan “prominence”. Lidah api ini dapat mencapai ketinggian ratusan ribu kilometer dari permukaan chromosphere. Prominence ini dapat dilihat jelas pada saat terjadi gerhana matahari total.

Peristiwa lain yang terjadi pada permukaan chromosphere adalah timbulnya filament gas akibat gerakan gas chromosphere yang panas. Filament gas ini tampak pada permukaan chromosphere sebagai sel-sel kasar yang disebut “supergranulation”. Peristiwa-peristiwa tersebut di atas terjadi silih berganti yang menyebebkan timbulnya “plage” dan “flare”. Plage adalah keadaan matahari pada saat panas dan bercahaya terang. Sedangkan flare adalah semburan energi tinggi dari permukaan matahari, berupa radiasi partikel sub atomik. Radiasi partikel sub atomik ini dapat sampai ke atmosfir bumi dan memicu terjadinya reaksi inti yang merupakan sumber radiaasi kosmogenis.

Reaksi Thermonuklir
Sudah sejak lama orang memikirkan dari mana asal energi matahari yang begitu panas dan setiap hari dipancarkan ke bumi, namun sampai saat ini belum juga habis sumber energi tersebut. Sampai dengan pertengahan abad ke 19, pada saat orang belum mengenal reaksi nuklir, orang masih menganggap bahwa energi matahari berasal dari bola api besar yang sangat panas. Kalau benar bahwa matahari berasal dari bola api besar, lantas timbul pertanyaan apa yang menjadi bahan bakar bola api tersebut? Para ilmuwan pada saat itu belum bisa menjawab dengan tepat. Mungkinkah kayu, batubara, minyak atau bahan bakar lainnya yang terdapat di matahari yang dibakar berdasarkan reaksi kimia biasa sehingga timbul bola api besar tersebut? Kalau benar bahan-bahan tersebut dibakar untuk menghasilkan energi matahari, maka berdasarkan perhitungan reaksi kimia, energi yang dihasilkan hanya dapat bertahan beberapa ribu tahun saja. Setelah itu matahari akan padam. Padahal matahari telah memancarkan energinya sejak ratusan juta bahkan orde milyard tahun yang lalu.

Dengan demikian maka anggapan bahwa sumber energi matahari tersebut berasal dari kayu, batubara, minyak atau bahan bakar lainnya adalah tidak benar. Para ahli astronomi dan juga astrofisika pada saat ini telah memperkirakan bahwa unsur-unsur kimia yang ada di bumi juga terdapat di matahari. Akan tetapi sebagian besar unsur kimia yang terdapat di matahari tersebut, sekitar 80% berupa gas Hidrogen. Sedangkan unsur kedua yang banyak terdapat di matahari adalah gas Helium, kurang lebih sebanyak 19 % dari seluruh massa matahari. Sisanya yang 1 % terdiri atas unsur-unsur Oksigen, Magnesium, Nitrogen, Silikon, Karbon, Belerang, Besi, Sodium, Kalsium, Nikel serta beberapa unsur lainnya. Unsur-unsur kimia tersebut bercampur menjadi satu dalam bentuk gas sub atomik yang terdiri atas inti atom, elektron, proton, neutron dan positron. Gas sub atomik tersebut memancarkan energi yang amat sangat panas yang disebut “plasma”. Energi matahari dipancarkan ke bumi dalam berbagai macam bentuk gelombang elektromagnetis, mulai dari gelombang radio yang panjang maupun yang pendek, gelombang sinar infra merah, gelombang sinar tampak, gelombang sinar ultra ungu dan gelombang sinar -x.

Secara visual yang dapat ditangkap oleh indera mata adalah sinar tampak, sedangkan sinar infra merah terasa sebagai panas. Bentuk gelombang elektromagnetis lainnya hanya dapat ditangkap dengan bantuan peralatan khusus, seperti detektor nuklir berikut piranti lainnya. Pada saat matahari mengalami plage yang mengeluarkan energi amat sangat panas, kemudian diikuti terjadinya flare yaitu semburan partikel sub atomik keluar dari matahari menuju ke ruang angkasa, maka pada sistem matahari diperkirakan telah terjadi suatu reaksi thermonuklir yang sangat dahsyat. Keadaan ini diduga pertama kali pada tahun 1939 oleh seorang ahli fisika Amerika keturunan Jerman bernama Hans Bethe. Menurut Bethe, energi matahari yang amat sangat panas tersebut disebabkan oleh karena terjadi reaksi fusi atau penggabungan inti ringan menjadi inti yang lebih berat. Reaksi thermonuklir yang berupa reaksi fusi tersebut adalah penggabungan 4 inti Hidrogen menjadi inti Helium, berdasarkan persamaan reaksi inti berikut ini:

(H1 + H1 -> H2 + Beta+ + v + 0,42 MeV) x 2
(H1 + H2 -> He3 + Gamma + 5,5 MeV) x 2
He3 + He3 -> He4 + 2H1 + 12,8 MeV
—————————————- +
H1 -> He4 + 2Beta+ + 2Gamma + 2v + 24,64 MeV

Menurut Bethe, reaksi inti yang serupa reaksi fusi tersebut di atas, dapat menghasilkan energi panas yang amat sangat dahsyat. Selain dari itu, karena sebagian besar massa matahari tersebut tersusun oleh gas Hidrogen (80%) dan gas Helium (19%), maka masih ada kemungkinan terjadinya reaksi fusi lain berdasarkan reaksi rantai proton-proton sebagai berikut:

H1 + H1 -> H2 + Beta+ + v
H1 + H2 -> He3 + Gamma
He3 + He4 -> Be7 + Gamma
Be7 + Beta+ -> Li7 + Gamma + v
———————————— +
Li7 + H1 -> He4 + He4

Terbentuknya gas Helium berdasarkan reaksi thermonuklir tersebut di atas juga menghasilkan energi yang amat sangat panas. Kemungkinan lain, gas Helium juga dapat terbentuk melalui reaksi nuklir berikut ini :

Be7 + H1 -> B8 + Gamma
B8 -> Be8 + Beta+ + v
Be8 -> He4 + He4

Walaupun reaksi inti tersebut di atas sudah dapat menghasilkan energi yang amat sangat panas, ternyata masih ada kemungkinan lain untuk terjadinya reaksi thermonuklir matahari yang menghasilkan energi yang jauh lebih dahsyat dan lebih panas lagi. Reaksi thermonuklir tersebut akan mengikuti reaksi inti rantai Karbon – Nitrogen sebagai berikut :

C12 + H1 -> N13 + Gamma
N13 -> C13 + Beta+ + v
C13 + H1 -> N14 + Gamma
N14 + H1 -> O15 + Gamma
O15 -> N15 + Beta+ + v
N15 + H1 -> C12 + He4

Reaksi ratai Karbon – Nitrogen tersebut di atas, menghasilkan panas yang jauh lebih panas dari pada reaksi rantai Proton – Proton maupun reaksi fusi Hidrogen menjadi Helium. Reaksi-reaksi thermonuklir tersebut di atas dapat terjadi di matahari dan juga di bintang-bintang yang tersebar di jagat raya ini. Reaksi thermonuklir sejauh ini dianggap sebagai sumber energi matahari maupun energi bintang. Bintang yang bersinar lebih terang dari pada matahari kita yang berarti pula bahwa suhunya jauh lebih panas, maka reaksi thermonuklir yang terjadi pada bintang tersebut pada umumnya akan mengikuti reaksi rantai Karbon – Nitrogen.

Kapan Matahari Akan Padam?
Pertanyaan kapan matahari akan padam adalah suatu pertanyaan yang sulit dijawab dengan pasti, atau mungkin ini termasuk pertanyaan bodoh tapi sangat perlu kita pikirkan. Apalagi kalau harus membuktikan kebenarannya. Namun sama halnya dengan keingintahuan manusia untuk mengetahui berapa umur bumi atau kapan terbentuknya bumi ini, maka para ahlipun berusaha dengan akalnya untuk memperkirakan kapan matahari akan padam. Seperti telah diterangkan di muka, bahwa matahari akan padam manakala reaksi thermonuklir di matahari telah berhenti. Apabila matahari padam, maka kehidupan di muka bumi akan berhenti. Secara empiris telah dapat dibuktikan bahwa ada bintang yang pada mulanya bersinar terang, akan tetapi kemudian sinarnya makin redup dan akhirnya padam.

Keadaan ini telah direkam oleh teleskop angkasa luar hubble. Atas dasar ini maka dapat saja matahari pada suatu saat akan padam. Seorang fisikawan Jerman, Hermann von Helmholtz, pada tahun 1825 mengamati perkembangan matahari yang ternyata diameter matahari setiap tahunnya menyusut 85 m. Kalau pengamatan Helmholtz benar, maka berdasarkan perhitungan penyusutan diameter matahari, umur matahari hanya akan bertahan untuk waktu 20.000.000 sampai dengan 25.000.000 tahun sejak matahari mengalami penyusutan. Untuk kurun waktu itu, teori Helmholtz ini cukup memuaskan para ilmuwan, sebelum akhirnya digugurkan oleh teori reaksi thermonuklir yang masih bertahan sampai saat ini. Atas dasar teori thermonuklir sudah barang tentu teori Helmholtz menjadi tidak benar, karena dalam kenyataannya matahari telah bersinar sejak orde 5.000.000.000 tahun yang lalu atau bahkan lebih dari itu, suatu umur yang melebihi perkiraan Helmholtz. Reaksi thermonuklir yang dikemukakan oleh Hans Bethe seperti yang telah diuraikan di muka, sebenarnya mirip dengan reaksi kimia konvensional dalam arti bahwa reaksi masih dapat berlangsung selama masih tersedia unsur atau reaktan yang menyebabkan terjadinya proses reaksi thermonuklir tersebut.

Pada reaksi thermonuklir yang terjadi di matahari, sebagai reaktan utama adalah gas Hidrogen. Para ahli astronomi dan astrofisika berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur matahari, maka pemakaian Hidrogen untuk reaksi thermonuklir dalam rangka mendapatkan energi yang amat sangat panas makin bertambah. Pada peristiwa ini energi yang dihasilkan oleh reaksi thermonuklir juga bertambah, sehingga energi radiasi yang dipancarkan matahari juga bertambah. Hal ini berarti pula suhu atmosfir bumi akan naik dan bumi akan terasa makin panas.

Apabila pendapat para ahli astronomi dan astrofisika tersebut benar, yaitu dengan bertambahnya umur matahari akan membuat persediaan gas Hidrogen pada permukaan matahari berkurang, maka jelas bahwa cepat atau lambat matahari pada akhirnya akan padam. Berdasarkan teori ini energi radiasi matahari diperkirakan masih dapat bertahan untuk jangka waktu kurang lebih 10.000.000.000 tahun lagi, setelah itu matahari padam. Contohnya adanya bintang yang pada saat ini sedang dalam proses menuju ke keadaan padam, telah dapat direkam gambarnya oleh teleskop ruang angkasa Hublle. Hal ini secara empiris menunjukkan kemungkinan yang sama dapat terjadi pada matahari kita. Namu apa yang terjadi akan terjadi sebelum waku 10.000.000.000. tahun tersebut terjadi? Secara teori dalam perjalanan menuju waktu 10.000.000.000. tersebut, suhu atmosfir bumi akan naik terus karena energi radiasi yang datang dari matahari bertambah panas. Keadaan ini akan menyebabkan es yang ada di kutub utara dan selatan akan mencair yang mengakibatkan tenggelammnya beberapa daratan atau garis pantai akan bergeser ke arah daratan. Kota-kota yang berada di pantai akan tenggelam. Ini baru merupakan bencana awal bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Bencana berikutnya adalah menguapnya semua air yang ada di bumi ini, karena suhu atmosfir bumi makin panas yang pada akhirnya tidak ada lagi air di muka bumi ini. Bumi yang menjadin kering kerontang tanpa air sama sekali dan suhunya yang panas menyebabkan berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Keadaan ini aka terjadi menjelang waktu mendekati 10.000.000.000 tahun yang akan datang.

Pada saat matahari kehabisan reaktan gas Hidrogen, maka reaksi thermonuklir benar-benar akan berhenti dan ini berarti matahari padam. Matahari yang telah padam ini akan mengeci;l (menyusust) menjadi suatu planet kecil yang dingin membeku yang disebut “White dwarf” atau si kerdil putih yang bukan matahari lagi! Contoh bintang atau planet yang sudah menjadi “white dwarf” di jagat raya ini cukup banyak, salah satunya planet bintang yang pada saat ini sedang menuju kematian seperti yang direkam oleh teleskop ruang angkasa Hubble. Sekali lagi keadaan tersebut akan terjadi 10.000.000.000 tahun yang akan datang. Keterangan ini merupakan jawaban untuk pertanyaan kapan reaksi thermonuklir di matahari berhenti atau matahari padam.

Sebelum abad 20, para ilmuwan menyatakan matahari tidak bergerak atau diam di tempat. Sedangkan gerakan dari timur ke barat hanya gerakan lahiriah saja. Awal abad 20, ilmuwan astronomi menemukan bahwa matahari memiliki gerakan yang hakiki di ruang angkasa dengan ukuran dan arah tertentu. Tetapi, abad ke-7 Masehi atau 1200 tahun sebelumnya, AL-Qur’an telah menyatakan pada QS Yaasiin ayat 38: “dan matahari berjalan ditempat peredarannya”

Ahli astronomi abad 20 menjelaskan bahwa matahari dikelilingi sekumpulan benda angkasa yang terdiri dari planet, bulan, dan komet, yang selalu mengikuti matahri dan tunduk mengikuti kekuatan gravitasi matahari. Setiap benda memiliki garis edar, bergerak teratur, dengan arah dan kecepatan tertentu. Ini sesuai firmanNya:

QS: Yaasiin ayat 39-40:Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk TANDAN yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Tandan yang tua, memberikan makna perubahan bentuk bulan yang tampak dari bumi. Sebelum purnama berbentuk sabit, setelah purnama pun kembali tampak seperti sabit.

Kiamat 2012 adalah terjadinya Badai Matahari:

Menurut Pak Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bahwa fenomena yang akan muncul pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasar pada pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an dan Indonesia oleh LAPAN telah dilakukan sejak tahun 1975.

Badai Matahari = Flare dan CME

Masih menurut ahli lain dari LAPAN, bahwa badai Matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare..? Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima . Padahal bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay, Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti kalau dikalikan 66 juta lagi.

Sedang CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi yakni sekitar 400 km/detik.

Gangguan cuaca Matahari ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.

HP akan error, dan sms bakal ‘kiamat’ betul

Dengan skala sebenarnya, saya sketsakan kira2 Badai Matahari itu akan seperti apa. Besar matahari hanya diambil sepersecuilnya, sementara Bumi sangat penuh (meski masih sangat kecil) tampaknya. Bumi saja belum apa-apanya bila dibanding sunspot yang warna hitam2 itu.

matahari

Flare di permukaan matahari sangat dahsyat, kalau pas maksimal bisa menjulang sangat tinggi.

Flare di Matahari
Bagi yang berminat lihat animasi Flare matahari paling update, ini linknya:

http://www.space.com//spacewatch/sun_cam_animated.html

Fenomena ini masih dipertanyakan kejelasannya. Apakah benar tanda titik hitam ini yang membuat matahari kita menjadi mempunyai gejala-gejala yang sulit untuk kita pelajari. Membuat para ahli astronomi bingung dibuatnya. Yah mungkin sains memang butuh sebuah keakuratan bukti dan gejala yang ada.

Artikel ini saya buat dari pengumpulan berbagai sumber yang saya temukan. Bagi yang merasa tulisannya ada didalam artikel ini walaupun kata-kata udah beda saya mohon maaf tidak bisa memberikan sumber artikel. Bagi anda yang kurang puas dengan penjelasan diatas, silahkan cari sendiri di google. Banyak yang akan anda dapat.

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58 :59 :60 :61
:62 :63

Poskan Komentar

thanks for apresiasi