The Lost Symbol fact 1: Invisible College
The Lost Symbol fact 1: Invisible College
Ada kebijakan rahasia telah diturunkan berabad-abad bersumber dari Ajaran-Ajaran Misteri zaman Mesir awal. Pengetahuan ini sempat terkubur dan muncul kembali ketika masa Renaisans Eropa. Di sana menurut sebagian besar catatan, pengetahuan itu dipercayakan kepada sekelompok elite ilmuwan di balik dinding-dinging pusat pemikiran ilmiah utama Eropa-the Royal Society of London-yang secara misterius dijuluki Invisible College.
Akademi rahasia ini dengan cepat menjadi kelompok penasihat yang terdiri atas orang-orang paling tercerahkan di dunia–Isaac Newton, Francis Bacon, Benjamin Franklin, dan Robert Boyle. Saat ini daftar anggota-anggota modernnya juga tak kalah mengesankan–Einstein, Hawkings, Bohr dan Celsius. Semua orang terpandai telah membuat lompatan kuantum dalam pemahaman manusia, yaitu kemajuan-kemajuan yang menurut beberapa orang adalah hasil eksplorasi mereka terhadap kebijakan kuno yang tersembunyi di Invisible College.
Dokumen-dokumen rahasia Newton yang ditemukan pada 1936 mengejutkan dunia karena mengungkapkan kegairahan luar biasa Newton terhadap studi alkimia kuno dan kebijakan mistis. Dokumen-dokumen pribadi Newton meliputi surat tulisan-tangan untuk Robert-Boyle, dan di dalam surat itu, dia mendorong Boyle untuk tetap “membisu” mengenai pengetahuian mistis yang telah mereka pelajari. “Pengetahuan itu tidak bisa disampaikan,” tulis Newton, “tanpa menimbulkan kerusakan dahsyat di dunia.”
Nantikan fakta seru lainnya!!
The Lost Symbol Fact# 2: Persegi Empat Franklin Formasi Delapan
Salah satu persegi empat ajaib yang paling terkenal dalam sejarah temuan adalah persegi empat formasi-delapan yang dipublikasikan pada 1769 oleh ilmuwan Amerika Benjamin Franklin dan menjadi terkenal karena menyertakan “penjumlahan diagonal membengkok” yang belum pernah ada sebelumnya. Obsesi Franklin terhadap bentuk seni ini kemungkinan besar berasal dari hubungan-hubungann pribadinya dengan para alkemis dan mistik terkemuka saat itu, dan juga keyakinannya sendiri dalam astrologi, yang merupakan landasan bagi prediksi-prediksi yang dibuatnya dalam Poor Richard’s Almanack.
Susunan unik angka 1 sampai 64 dengan penjumlahan setiap baris, kolom, dan diagonal menghasilkan konstanta ajaib yang sama.
52 61 4 13 20 29 36 45
14 3 62 51 46 35 30 19
53 60 5 12 21 28 37 44
11 6 59 54 43 38 27 22
55 58 7 10 23 26 39 42
9 8 6 57 56 41 40 25 24
50 63 2 15 18 31 34 47
16 1 64 49 48 33 32 17
Masukan ini dipos pada Januari 22, 2010 11:11 pm dan disimpan pada Uncategorized . Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
DECEPTION POINT

SINOPSIS BUKU - Deception Point - Titik Muslihat
Tak satu pun seperti yang terlihat di belakang setiap sudut terdapat kejutan yang mencengangkan.
Sebuah penemuan ilmiah yang mengejutkan.
Sebuah muslihat yang amat cerdik.
Sebuah thriller politik yang berbeda dengan semua yang pernah Anda baca.
Dalam novel menegangkan terbarunya ini, Dan Brown membawa pembaca mulai dari National Reconnaissance Office yang amat rahasia menuju ketinggian dataran es di Lingkar Kutub Utara, lalu kembali lagi ke lorong kekuasaan di Gedung Putih. Dipuja untuk keahliannya dalam mengombinasikan ilmu pengetahuan, sejarah, dan politik dalam Malaikat & Iblis yang mendapat pujian serius, Brown telah mengukir sebuah novel lain di mana di dalamnya tak satu pun seperti yang terlihat--dan di belakang setiap sudut terdapat sebuah kejutan yang mencengangkan. Deception Point adalah sebuah fiksi pendebar-jantung yang terbaik.
Ketika satelit NASA yang baru menemukan bukti dari sebuah objek amat langka yang terkubur jauh di dalam lapisan es Arktika, lembaga ruang angkasa yang sedang mengalami kesulitan itu mengumumkan sebuah kemenangan yang amat dibutuhkan ... kemenangan yang berimplikasi besar bagi kebijakan ruang angkasa Amerika Serikat dan pemilihan presiden yang akan datang. Untuk memverifikasi kebenaran penemuan tersebut, Presiden mengirim analis Intelijen Gedung Putih Rachel Sexton ke Milne Ice Shelf. Ditemani oleh sekelompok pakar, termasuk akademisi Michael Tolland yang karismatik, Rachel membongkar bukti penipuan ilmiah yang tak terbayangkan—sebuah muslihat berani yang mengancam mendorong dunia ke dalam pertentangan.
Tetapi, sebelum Rachel dapat menghubungi Presiden, dia dan Michael diserang oleh sekelompok pembunuh mematikan yang dikendalikan oleh seorang tokoh penguasa misterius yang akan melakukan apa saja demi menyembunyikan kebenaran. Keduanya berupaya menyelamatkan diri menyeberangi lingkungan yang begitu terpencil dan berbahaya itu. Satu-satunya harapan bagi keberlangsungan hidup mereka adalah menemukan tokoh di belakang taktik teramat ahli ini. Kebenarannya, seperti yang mereka temukan kemudian, adalah muslihat paling menggemparkan dari apa pun juga.
***
"Dan Brown menulis sebuah thriller yang mengalir amat cepat dengan perubahan alur dan kejutan yang cukup untuk membuat pembaca yang berpengalaman sekalipun tetap mengira-ngira. Ditambah dengan penelitian yang sempurna, jadilah Deception Point sebagai bacaan luar biasa."
--Vince Flynn, pengarang Separation of Power.
"Brown telah membuktikan diri sebagai salah satu penulis thriller yang paling dinamis dan cerdas ...."
--Library Journal.
DOWNLOAD DECEPTION POINT PDf/BAHASA INDONESIA
THE LOST SYMBOLS
Ceramah Panjang Langdon tentang Freemasons
—Anwar Holid
Bentang mempertaruhkan rekor nilai kontrak yang pernah mereka buat untuk bisa mendapatkan hak terjemahan The Lost Symbol (707 hal.) karya Dan Brown ke dalam edisi Indonesia. Salah satu imprint kelompok Mizan ini menerbitkan novel yang penjualannya memecahkan rekor dalam sejarah pasar novel dewasa. Edisi Inggris The Lost Symbol diproduksi sebanyak 6,5 juta kopi untuk cetakan pertama—5 juta untuk pasar Amerika Utara, 1,5 juta untuk Inggris. Reuters melaporkan bahwa jaringan toko buku Barnes & Noble membukukan pembelian tertinggi untuk penjualan hari pertama sebuah judul buku, baik di toko maupun lewat online. Begitu terbit pada 15 September 2009, novel itu terjual lebih dari sejuta kopi di hari pertama. Jutaan penggemar Brown sudah beberapa tahun lalu menanti-nanti The Lost Symbol sejak dia dijadwalkan merilis novel baru tahun 2007 yang berjudul tentatif “The Solomon Key.”
Di Indonesia The Lost Symbol terbit dengan persiapan matang. Untuk menggoda publik, penerbit mengadakan lomba komentar bertema lomba “Mengapa Saya Ingin Membaca The Lost Symbol” berhadiah novel tersebut beserta gimmick berupa gantungan kunci, tali handphone, dan kalender 2010 The Lost Symbol berbentuk piramida. Lebih serius dari itu, terasa betapa penerbit mengerjakan proses penerbitannya dengan sungguh-sungguh. Untuk buku setebal lebih dari satu rim, penyuntingan novel ini boleh dibilang sempurna. Tingkat keterbacaan buku ini tinggi dan boleh dibilang bersih dari noda salah eja. (Seingat saya hanya merasa menemukan satu salah eja di bagian akhir novel itu—yaitu ‘mersusuar’—tapi tak langsung menandainya, jadi ketika memeriksa lagi malah gagal menemukan.) Kualitas editan dan terjemahan novel ini hebat. Dari segi penyajian, sisi ini patut dihargai. Edisi Indonesia novel ini terbit pada 25 Januari 2010. Untuk menambah bobot, penerbit meminta endorsement dari penulis sekaliber Radhar Panca Dahana, Tasaro, dan E.S. Ito.
Saya sendiri mula-mula bereaksi sengit begitu tahu bahwa novel ini akan diterbitkan oleh kelompok Mizan. Namun komentar sejumlah orang, disusul press release Penerbit Mizan: Mengapa Bentang Pustaka (Mizan Grup) Menerbitkan The LOST SYMBOL?, akhirnya membuat saya maklum.
Kisah The Lost Symbol fokus pada gerakan Freemasonry, berlangsung kira-kira lebih dari 12 jam dalam kehidupan Robert Langdon. Mulai dari sore hingga fajar hari berikutnya, Langdon kebut-kebutan dengan penjahat gila yang terobsesi oleh janji religius untuk menjadi manusia-tuhan (demigod), ditambah intimidasi CIA yang curiga atas aktivitas dan keterlibatan Langdon. Dan Brown mengintensifkan ketegangan permainan berbahaya ala anjing dan kucing di antara ketiga pihak itu di sepanjang halaman, diselang-selingi jejalan berbagai informasi, perdebatan tentang iman, tafsir terhadap karya seni dan kekayaan arsitektur, teori konspirasi, studi ilmu noetik, dan tentu saja: pemecahan simbol rahasia.
Robert Langdon secara mengejutkan mentah-mentah tertipu oleh undangan dari Peter Solomon, mentor yang ia hormati, berasal dari keluarga aristokrat Amerika Serikat, sekaligus kepala Institut Smithsonian dan seorang patron Mason dengan pangkat derajat 33—derajat tertinggi di kelompok tersebut. Awalnya Langdon antusias memenuhi permintaan Solomon untuk berceramah di institusinya. Namun begitu sampai di Capitol, ia malah “dipancing” dengan potongan tangan kanan Solomon dengan tuntutan agar Langdon memecahkan misteri kuno sebagai tebusan atas penculikan Solomon. Berbekal telunjuk yang mengarah pada lukisan fresko The Apotheosis of Washington, cincin Freemason, dan sebuah kotak tua titipan Solomon, Langdon dipaksa mengerahkan seluruh kecanggihan intelektualitasnya untuk menyelamatkan Solomon. Rupanya, informasi Langdon dan tuntutan penjahat itu menimbulkan kecurigaan pihak CIA, yang menganggap bahwa pemecahan misteri itu terkait dengan “keamanan nasional” pemerintahan Amerika Serikat. CIA yakin bahwa Langdon justru terlibat dalam gerakan makar, dan terus-menerus mencurigainya sebagai bagian dari teorisme agama.
Pemecahan misteri ini begitu rumit, penuh simbolik, sepotong-potong, berlatar belakang mitos di perkumpulan terkemuka yang melibatkan konspirasi sekte agama, ritual kuno, dan ambisi kekuasaan. Bagi orang yang tertarik pada perbincangan simbol agama, tafsir-tafsir implisit dalam kitab suci, bahwa hampir semua wahyu Tuhan itu pasti melangit lagi bersayap—dalam kasus ini terutama berasal dari Alkitab—dan makna penciptaan manusia, novel ini jelas mampu memenuhi kepenasaran mereka atas berbagai isu utama agama, misalnya siapakah Tuhan itu, mengapa dia kadang-kadang memaksa manusia melakukan hal-hal irasional? Apa gunanya iman, apa ia bisa menyelamatkan manusia dan kehidupannya? Apa isi utama kitab suci agama-agama? Kenapa ada banyak hal musykil terjadi di dalamnya? Dengan menjalankan prosesi dan ritual tertentu, penjahat dalam novel ini terobsesi oleh keyakinan bahwa manusia bisa mencapai derajat mirip tuhan, apalagi dia secara bertahap merasa mendapat pencerahan. Dia percaya kunci perubahan derajat manusia itu disembunyikan oleh kaum Freemasons, dan karena Peter Solomon menolak membuka rahasia, dia memaksa agar Langdon bekerja untuk dirinya. Puncaknya dengan membalikkan skema ritual pengorbanan Ibrahim mengorbankan anaknya.
Tertekan oleh pengawasan dan interogasi Inoue Sato—Direktur Office of Security CIA yang langsung mengepalai operasi pencegahan upaya makar terhadap pemerintahan—Langdon terpaksa bercerita panjang lebar tentang Freemasons dan pengaruhnya pada visi di awal pendirian Amerika Serikat. Para bapak bangsa negeri itu memang menganut Freemasons, antara lain George Washington, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan James Madison. Meski boleh dibilang cukup terbuka, gerakan Freemasonry tetaplah terasa misterius. Di zaman itu, Freemasons berpengaruh besar terhadap pandangan dunia mereka, dan nilai-nilai itu mereka coba warisan ke generasi selanjutnya, meski lama-lama dipenuhi mitos misterius. Gale Encyclopedia of the Unusual and Unexplained memasukkan Freemasonry dalam entri Secret Societies and Conspiracies. Salah satunya ialah anggapan bahwa mereka menyimpan rahasia terhadap keberadaan Sang Mahatinggi. Organisasi perkawanan ini dahulu digjaya karena anggotanya orang terkemuka dan berpengaruh, namun sejak 1826-an keanggotaan dan citranya mengalami kemunduran drastik dipicu oleh kontroversi internal atas kematian William Morgan, seorang Mason yang berniat membeberkan rahasia Freemason ke dunia. Dia mati di tangan anggota Mason sendiri.
“Yang bikin excited calon pembaca Indonesia mungkin antusiasme mereka terhadap Amerika Serikat yang selalu dikaitkan dengan kekuatan ‘phantom power’ à la Freemasons atau zionisme. Dengan baca buku ini publik berharap bisa mendapat jawabannya,” demikian komentar Nuning Hallett, seorang warga Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Dia mendapat novel itu sehari sebelum peluncuran di AS.
Dengan cepat Brown membuka selubung ambisi kekuasaan dengan ilusi keabadian dan pencerahan sebagaimana janji-janji agama. Lawan tangguh Langdon ialah orang telah mengalami tiga fase kehidupan, itu membuatnya jadi begitu kuat, penuh perhitungan, dengan dendam tanpa ampun. Di masa kecil, orang ini awalnya bergelimang kenikmatan duniawi, tapi perjalanan hidup mengubahnya mampu mengalahkan hasrat duniawi maupun seksual, sampai mengalami epifani bahwa dirinya bisa mencapai kesempurnaan. Dia mempelajari cara melakukannya, hanya sedikit terhadang oleh rahasia yang disembunyikan begitu rapat dan berlapis-lapis oleh persaudaraan Mason. Kali ini misterinya terasa lebih sulit bagi Langdon karena mereka menyembunyikan kunci simbol di dalam simbol
Lepas dari kejar-kejaran dengan waktu dan ancaman baik dari sang lawan atau CIA, insiden itu sedikit-banyak bersinggungan dengan ilmu noetik, studi mengenai pikiran manusia dan upaya riset teknologi apa ruh bisa diteliti secara fisik. Di sini Langdon kembali beradu cakap panjang lebar dengan Katherine, eksponen utama ilmu noetik adik sang korban penculikan. Mungkin diskusi antara iman-ilmu pengetahuan-misteri kuno lebih menarik dibanding thrillernya, meski menurut Laura Miller—kritikus sastra pendiri Salon.com—argumen dalam novel ini dianggap pseudosains. Sebagai thriller, cerita The Lost Symbol mudah ditebak, ancamannya kurang melahirkan ketegangan puncak. Dan Brown sengaja merancang kisah ini lewat gaya bercerita serba tahu, mengisahkan secara menyeluruh, dan membiarkan pembaca mengira-ngira terus apa logika kejadiannya masuk akal atau musykil. Sangat mengherankan betapa persaudaraan yang sesama anggotanya saling menjaga ini juga bisa disusupi oleh orang yang ingin menghancurkan dari dalam.
Lepas bahwa Dan Brown merupakan penulis populer dengan rekor penjualan gila-gilaan, namanya terabaikan dalam buku rujukan bacaan semacam 1001 Books You Must Read Before You Die (2008). Reputasinya di dunia kepenulisan, apalagi di hadapan para kritikus, memang buruk—ini diperparah oleh beberapa gugatan kasus pelanggaran hak cipta terhadap dirinya, meski semua dia menangi. Namun apa pun komentar kritik dan pendapat media terhadap karyanya, puluhan juta penggemar Dan Brown pastilah benar: mereka suka tenggelam ke dalam labirin konspirasi dan penuh imajinatif berusaha menguliti lapis demi lapis misteri. Di sisi pasar, kondisi, kontroversi, serta publisitas Dan Brown bakal memudahkan Bentang untuk bisa memenangi pertaruhan selera massa.[]
Anwar Holid bekerja sebagai penulis, editor, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com. Dia suka kesulitan memahami misteri kehidupan.
********
Mengungkap Rahasia Freemason
Resensi ini dimuat di KORAN JAKARTA, Sabtu 13 Februari 2010
The Lost Symbol adalah novel kelima karya Dan Brown, dan novel ketiganya yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code. Permulaan kisah dalam novel ini dimulai dengan Robert Langdon yang dipanggil ke Washington DC untuk mengisi ceramah, sembari menemui temannya Peter Solomon, tepatnya di gedung Capitol. Namun, ternyata undangan tersebut hanyalah kebohongan belaka.
Di gedung tersebut seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason. Langdon ternyata akan diperalat. Langdon dihubungi oleh seseorang yang mengaku sedang menyandera Peter Solomon. Penyanderaan tersebut tak lain sebagai jaminan agar Langdon memecahkan teka-teki tentang “Ancient Mysteries” yang dimiliki organisasi Freemason. Penyandera Peter Solomon tersebut ternyata juga mengejar adik Peter Solomon, Katherine. Kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia. Secara umum, alur novel ini masih sama seperti novel-novel sebelumnya, Th e Da Vinci Code dan Angels and Demons.
Petualangan semalam diburu waktu untuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang tak diduga dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Dan tokoh perempuan yang menemani petualangan sang tokoh utama pria. Kali ini, organisasi yang hendak dibongkar misterinya adalah Freemasonry. Menurut Encyclopaedia Britannica, Freemason merupakan perhimpunan rahasia terbesar di dunia, berkembang dari loji-loji tukang batu pembangun katedral di Abad Pertengahan. Sebagian kecil loji itu mengembangkan ajaran kebatinan yang memungut ritus-ritus dan pernak-pernik ordo keagamaan kuno dan kelompok persaudaraan.
Loji Agung, persatuan beberapa loji, pertama berdiri di Inggris pada 1717, dan Freemason pun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Robert Langdon berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sahabatnya yang telah ditawan. Maka dimulailah petualangan semalam suntuk Robert Langdon di Washington. Selain itu, Direktur CIA menekan dia untuk segera mengungkap siapa penyandera tersebut dan segera memenuhi permintaan sang penculik karena penculikan Solomon adalah masalah keamanan nasional. Nahasnya, sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan melayang, dan rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.
Pada saat Langdon mencari teka-teki itu, pembaca akan “diajak” melihat terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington. Pembaca akan merasa berdebar-debar saat mengikuti penelusuran Robert Langdon. Buku The Lost Symbol ini dikisahkan secara menarik dan penuh kejutan-kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.[]
M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh
*****
Memang sudah nasib Om Langdon jika dia harus berkejaran lagi dengan waktu, memecahkan kode-kode dan simbol-simbol rahasia lintas generasi seperti yang pernah dialaminya saat di Vatikan. Hanya, kali ini dia tak perlu pergi jauh-jauh. Masih di negaranya sendiri, bahkan di pusat pemerintahan Sang Negara Adikuasa, Washington DC. Dan tak cukup tenggat waktu yang menjadi ‘partner sprintnya’, Langdon juga harus lincah berkelit dari belitan CIA yang mengawalnya sejak semula. Dan karena bukan dewa, dia tentu saja mendapat bantuan dari banyak pihak.
Yang setia menemani pencarian jawabannya akan symbol yang hilang itu adalah Katherine Solomon, adik sahabatnya Peter Solomon yang menariknya ke labirin gedung-gedung bersejarah di Washington dengan segala symbolnya. Ada juga beberapa anggota Mason yang seperti halnya Peter menduduki posisi strategis di bidangnya masing-masing.
Kekuatan Brown dalam buku ini, seperti buku-bukunya yang lain adalah detail setiap setting. Dia juga menjabarkan kebijaksanaan masa silam dari founding fathers Amerika, serta agama-agama dan kepercayaan yang pernah dan masih ada di dunia dari dulu hingga sekarang dalam satu paket. Apotheosis sendiri yang menggerakkan si tokoh antagonis dan merupakan pesan tersembunyi dari setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia sedikit banyak mengingatkanku akan falsafah manunggaling kawula-Gusti.
Terdiri dari bab-bab yang tak terlalu panjang, buku ini sangat mengasyikkan dan ‘memaksa’ untuk dilahap habis segera. Terjemahan dan editing yang rapi juga menambah kenyamanan membaca. Yang tak kalah menarik, adalah Pengantar Penerbit. Ada dua point yang saya garis bawahi di sana. Pertama, penerbit merasa perlu menceritakan sedikit kontroversi tentang perkumpulan persaudaraan Freemasonry yang menjadi ‘sasaran tembak’ Brown kali ini yang oleh umat muslim dianggap bersahabat erat dengan gerakan zionisme. Catatan kedua yang mau tak mau melebarkan senyum di wajah saya adalah pengakuan mereka bahwa The Lost Symbol ini memecahkan rekor nilai kontrak yang pernah mereka buat.
Tak hanya diajak Langdon memecahkan teka-teki dengan symbol, pembaca pun disuguhi dua kejutan manis di akhir cerita. Kejutan pertama, mestinya sudah bisa tertebak dengan clue-clue yang disebar Brown. Sedangkan kejutan kedua, yang merupakan jawaban dari keseluruhan cerita dan pesan moral bisa dibilang seperti bonus setelah klimaks melandai. Secara pribadi, aku justru tak mengharapkan dan mencari jawaban ini. Bahwa semua terhenti setelah konfrontasi itu, rasanya lebih enak dicerna. Tapi, jika difilmkan, pasti akan terasa mengagumkan berada di ketinggian bersama Langdon dan Katherine.
Menutup (nyaris seperti) resensi ini adalah kata-kata dari Pak Albert Einstein yang dikutip oleh kepala katedral Dean Galloway saat Langdon masih belum bisa menyelaraskan akal dan hatinya. Katanya, “Sesuatu yang tidak mampu kita pahami benar-benar ada. Di balik rahasia-rahasia alam, masih terdapat sesuatu yang subtil, tak teraba, dan tak terjelaskan. Penghormatan terhadap kekuatan melebihi segala yang bisa kita pahami ini adalah agamaku.” Halaman 436.
dikutip dari blog indarwati indarpati
http://lembarkertas.multiply.com/reviews/item/23
ANGELS AND DEMONS
Judul: Malaikat dan Iblis (Angels and Demons)
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Serambi






Ini buku ke-2 Dan Brown yang terbit di Indonesia (setelah Da Vinci Code) oleh penerbit yang sama (Serambi), walaupun sebenernya buku ini merupakan prequel dari Da Vinci Code. Di pengantarnya Dan Brown menulis kalo di buku inilah karakter Robert Langdon tercipta. Sebagai informasi, Malaikat dan Iblis adalah buku ke-2 karya Dan Brown, sedangkan Da Vinci Code adalah buku ke-4 (lihat di sini).
Selain kesamaan tokoh utamanya, Robert Langdon si ahli sejarah dan simbol-simbol kuno dari Harvard, buku ini juga berlatar belakang agama, Katolik khususnya. Kesamaan lainnya adalah adanya penggabungan fakta dan fiksi yang kadang bikin penasaran (lihat di sini) serta setting waktu kritis yang 24 jam.
Ceritanya dibuka dengan pembunuhan Leonardo Vettra seorang fisikawan dari lembaga riset CERN di laboratoriumnya. Plot cerita kemudian beralih ke kediaman Robert Langdon, di mana Langdon menerima kiriman fax yang berisi gambar mayat Leonardo Vettra dan sebuah simbol di dada Vettra yang sengaja ditorehkan si pembunuh untuk menunjukkan jatidiri kelompok si pembunuh. Simbol itu merujuk pada kelompok Illuminati, suatu kelompok rahasia dari beberapa abad yang lalu yang seolah-olah bangkit dari kubur untuk menunjukkan eksistensinya. Di Laboratorium CERN Illuminati juga mencuri zat antimateri yang bisa berubah menjadi bom dahsyat.
Berawal dari rasa penasaran atas munculnya salah satu simbol kelompok rahasia Illuminati yang dimusuhi Gereja (Vatikan) pada masanya, Langdon terbang ke markas CERN di Swiss dan bertemu dengan Vittoria Vettra, anak angkat Leonardo Vettra. Berdua mereka harus ke Vatikan City di Italia, tempat kelompok Illuminati meletakkan bom antimateri curian, dan menyelamatkan kota suci umat Katolik itu.
Di Vatikan sendiri, berkumpul para kardinal dari seluruh dunia untuk memilih Paus baru sebagai pengganti Paus lama yang meninggal dunia (conclave). Saat pemilihan akan dilaksanakan, diperoleh kabar, empat kardinal calon kuat Paus yang baru (preferitti) telah diculik dan akan dibunuh satu per satu tiap satu jam dimulai dari jam 8.00 malam di tempat-tempat umum di Roma.
![]() | ![]() |
| Ambigram di buku Malaikat dan Iblis(Courtesy of John Langdon) | |
Dengan pengetahuannya sebagai ahli sejarah dan ahli simbol-simbol kuno, Langdon ditemani Vittoria berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Vatikan dan para kardinal. Berhasilkah mereka..? Itu termasuk kejutan yang kayaknya gak perlu diceritain di sini..
. Baca sendiri aja ya..
Itu inti cerita dari novel Malaikat dan Iblis. Menurut gue ini buku yang harus dibaca buat yang udah pernah baca Da Vinci Code. Dan menurut gue buku ini gak kalah asyik ato bahkan lebih asyik daripada Da Vinci Code. Banyak kejutannya, alurnya unpredictable dan suspense-nya lebih tinggi daripada Da Vinci Code. Dan Brown berhasil mempertahankan alur cerita sampai klimaksnya bener-bener memuaskan. Di lain pihak, fiksi di buku ini juga lebih keliatan walaupun cuma jadi tempelan. Kelebihan Da Vinci Code adalah dia lebih kontroversial dan penggabungan fiksi dan faktanya lebih smooth.
Kalo di Da Vinci Code, petunjuknya dari puisi dalam cryptex, di Malaikat dan Iblis petunjuknya dari dokumen kuno Galileo. Dan sama dengan di Da Vinci Code, berdasar petunjuk di dokumen Galileo, Langdon harus menemukan tempat-tempat tertentu di Roma. Kalo kita pernah jalan-jalan ke Vatikan atau Roma di Italia, apalagi kenal dengan tempat2 yang disebutin di buku ini, kayaknya bakal lebih menjiwai..hehehe.. Minimal bisa nostalgia..
. Kalo yang lom pernah ke sana kayak gue, ya minimal jadi penasaran…. Btw, ada peta Roma dan Basilika St. Petrus di bagian depan buku buat ngikutin penelusuran Robert Langdon.
Kekurangan dari buku ini, menurut gue di penokohannya. Di Da Vinci Code, dia ditemani cewek dan jatuh cinta. Di sini dia dengan Vittoria Vettra dan jatuh cinta pula. Dan beberapa tokoh di novel ini punya kemiripan sifat dengan tokoh-tokoh di Da Vinci Code…sengaja ato nggak gue gak tau dan mungkin gue juga salah..
. Ato emang Dan Brown yang males bikin karakter baru…
Anyway, buku ini bener-bener asyik, kalo udah mulai baca rasanya sayang klo gak langsung diabisin…. Kalo dalam skala 1 – 5, gue ngasih point 4 buat buku ini.
DAVINCI CODE
| SINOPSIS BUKU - The Da Vinci Code (Soft Cover) |
| Saat di Paris, pakar simbologi Harvard, Robert Langdon, menerima telepon tengah malam yang penting. Seorang kurator senior di Museum Louvre terbunuh, dan pesan-pesan rahasia yang mengherankan ditemukan dekat tubuhnya. Ketika Langdon dan seorang kryptolog (pemecah kode) berbakat Prancis, Sophie Neveu, mengupas lapis demi lapis teka-teki aneh itu, mereka terpana menemukan serangkaian petunjuk tersembunyi di balik karya-karya terkenal Leonardo Da Vinci?petunjuk-petunjuk yang tampak agar dilihat semua orang tapi sengaja disamarkan dengan jenius oleh sang pelukis. Situasi menjadi semakin menegangkan ketika Langdon menemukan sebuah kaitan mengejutkan: mendiang kurator itu terlibat dalam Priory of Sion—sebuah masyarakat rahasia yang nyata, yang beranggotakan antara lain Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Da Vinci. Langdon dan Sophie menjadi buruan internasional, secara tak terduga harus berhadapan dengan seseorang yang tak tampak tapi amat berkuasa. Mereka harus memecahkan labirin teka-teki itu. Jika gagal, rahasia Priory—sebuah kebenaran kuno yang dapat mengguncang dunia—akan hilang selamanya. *** "Dan Brown mestilah salah seorang penulis terbaik, paling cerdas, dan paling berhasil di negeri ini. THE DA VINCI CODE beberapa tingkat di atas thriller cerdas biasa; ini adalah benar-benar jenius." --NELSON DeMILLE, pengarang bestseller #1 menurut New York Times Dan Brown adalah daftar-harus-baca saya yang baru. THE DA VINCI CODE amatlah mengasyikkan dan menyita perhatian "sempurna bagi para penggemar sejarah, penggila teori konspirasi, pencinta teka-teki, atau siapa pun yang menghargai sebuah kisah hebat dan seru. Saya suka buku ini." --HARLAN COBEN, pengarang bestseller #1 menurut New York Times "Brown telah menyusun sebuah plot raksasa yang akan memuaskan penggila konspirasi dan pencandu cerita tegang." --PUBLISHER?S WEEKLY "Sebuah bacaan menegangkan yang menyediakan makanan yang kaya bagi pikiran kita." --AMAZON.COM "... penuh teka-teki, pemecahan kode, memikat otak ...." --THE NEW YORK TIMES "Dalam setahun ini, THE DA VINCI CODE bisa jadi merupakan buku paling sensasional." --GATRA "Brown berhasil memadukan sebuah thriller dengan tafsiran yang mengagumkan tentang sejarah Barat sehingga novel ini tidak hanya menarik hati pembaca suspense tetapi juga para peminat seni dan agama." --REPUBLIKA |
| RESENSI TERKINI - The Da Vinci Code (Soft Cover) | |
| Oleh : ernee, 29 Oktober 2007-09:26:55 | |
| Buku yang penuh teori konspirasi! Sangat menegangkan! Buku ini dibuka dengan pengakuan Dan Brown bahwa "Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat," walaupun klaim ini diperdebatkan oleh para sarjana akademisi dalam diskusi-diskusi buku. Novel ini bermula dengan pembunuhan seorang kurator seni di museum Louvre, Jaqcues Sauniere. Semasa hidupnya, Sauniere tidak saja memiliki minat pada seni tetapi juga menjadi pimpinan tertinggi sebuah perkumpulan rahasia yang dikenal dengan Biarawan Sion. Perkumpulan ini memegang sebuah rahasia, yang jika terbongkar, akan menggoncang gereja Katolik. Sebelum kematiannya, Sauniere mencoba memberikan rahasia ini kepada cucu perempuannya, Sophie, seorang ahli kriptografi dan Robert Langdon, seorang profesor Simbologi di Harvard. Ia meninggalkan berbagai petunjuk pada mereka agar kebenaran itu tidak hilang bersama dengan kematiannya..Rahasia yang coba disampaikan Sauniere adalah lokasi dan identitas Holy Grail. Tetapi dalam novel Brown, Holy Grail ini bukanlah cawan yang digunakan oleh Kristus sewaktu jamuan terakhirNya seperti yang selama ini dikenal semua orang. Holy Grail adalah seseorang, seorang wanita yang kehadirannya disamarkan oleh Leonardo Da Vinci dalam lukisannya yang terkenal, The Last Supper. Brown menjelaskan bahwa lukisan terkenal tersebut yang terdiri dari 13 lelaki itu ternyata tidak semuanya LELAKI! Ada seorang WANITA disana! Wanita yg disamarkan oleh Da Vinci ini memiliki rambut merah, dan duduk tepat di samping sang Kristus!. Brown menghadirkan cerita perburuan rahasia tersebut dalam alur cerita yang menegangkan dan memikat. Rangkaian cerita disusun sedemikian rupa sehingga menyeret pembaca untuk menyimak novel ini dari awal sampai akhir. Cerita-cerita dan fakta-fakta sejarah seputar Yesus dihadirkan melalui dialog tokoh-tokohnya, sehingga tidak terkesan sebagai satu bentuk indoktrinasi, tetapi sebagai ungkapan realitas sejarah yang berhasil membongkar dasar-dasar dogma Kristen. Karena itu, dalam beberapa iklannya, buku ini digambarkan sebagai "memukau logika dan menggoyang iman". Misalnya, di situ disebutkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan seorang manusia. Sebelum abad keempat, Yesus hanya dianggap manusia, namun Kaisar Imperium Romawi kala itu, Konstantin, mendewakan-Nya sesuai keyakinan lamanya yang paganis. Untuk keperluan klaim-klaim Kristen belakangan, Alkitab, setidaknya yang dianggap otoritatif, disunting dan digarap sesuai keinginan kekuasaan kala itu. Menurut saya buku ini ditulis dengan kreatif, sangat brilian, enak dibaca, sekaligus penuh unsur menegangkan. Pembaca diajak untuk memahami kembali karya-karya Leonardo Da Vinci yang selama ini sudah seringkali kita lihat TETAPI tidak pernah kita perhatikan. Kita tidak akan bisa melepaskan buku ini sebelum sampai pada halaman terakhir. DOWNLOAD DAVINCI CODE -PDf/BAHASA INDONESIA | |
The Lost Symbol Fact #8: Simbol-simbol Terpenting Kelompok Mason Share
The Lost Symbol Fact #8: Simbol-simbol Terpenting Kelompok Mason Share
Kelompok Mason lekat dengan rahasia. Banyak hal dipresentasikan dengan bahasa simbol. Tak mengherankan, karena pendiri kelompok ini konon adalah tukang batu yang terbiasa berkomunikasi dengan memahat simbol-simbol pada batu.
Dalam perkembangannya, Kelompok Mason meracik pelbagai legenda dan ilmu pengetahuan dalam bentuk simbol-simbol baru.
Simbol yang paling terkenal adalah Phoenix berkepala dua. Secara esoterik, simbol ini terkait dengan transformasi yang berlawanan dengan hidup, penyatuan diri menuju keseimbangan. Transformasi ini meyiratkan jiwa yang terlahir kembali menuju tingkat lebih tinggi, makluk yang lebih sempurna.
Lainnya adalah simbol Boas dan Yakhin berupa bentuk dua pilar tembaga, yang diyakini sebagai reperesentasi bahwa Tuhan menciptakan kekuatan luar biasa, sebagaimana makna kata Boas yang artinya kekuatan, dan Yakhin yang berarti Tuhan Akan menciptakan. Kedua pilar konon menyimbolkan pintu masuk ke sebuah kuil yang dibangun oleh Raja Solomon (Nabi Sulaiman), untuk menuju Tuhan.
Secara brilian, Dan Brown menciptakan tokoh Malk’ah, anggota Mason derajat 33 yang sangat memercayai semua legenda dan misteri kuno dengan cara ekstrim. Malk’ah digambarkan mentato seluruh tubuhnya dengan dua simbol terpenting kelompok Mason itu. Dua pilar Boas dan Yakhin pada kedua kakinya, serta Phoenix berkepala dua di dadanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menuju Tuhan dan menjalani transformasi ke tingkat yang lebih tinggi. Inilah salah satu bagian paling seru dalam The Lost Symbol.
Masukan ini dipos pada Februari 1, 2010 4:38 am dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Dan Brown, edisi bahasa Indonesia, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
The Lost Symbol Fact #7: Simbol Kejahatan di Katedral Nasional Washington
The Lost Symbol Fact #7: Simbol Kejahatan di Katedral Nasional Washington
Salah satu Landmark penting di Washington adalah Katedral Nasional, sebuah mahakarya neo-Gothik yang terletak di Embassy Row. Di dekat altar utama, bangunan bersejarah ini menyimpan sepuluh batu dari Gunung Sinai, satu diantaranya adalah sebuah batu dari surga. Kesepuluh batu menyimbolkan Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa di Gunung Sinai.
Sebuah jendela di katedral dinamai Jendela Ruang Angkasa, karena terdapat pecahan batu bulan yang tertanam di dalamnya.
Yang menarik, salah satu patung yang di pajang di menara katedral adalah Patung Darth Vader, tokoh antagonis film Hollywood Star Wars. Patung yang terletak di sebelah barat menara, terpilih untuk merepresentasikan wajah kejahatan dalam sebuah kontes. Anak-anak-lah yang memilih Darth Vader—ayah gelap Luke Skywalker—sebagai gambaran tokoh jahat tersebut.
Masukan ini dipos pada Januari 29, 2010 1:26 am dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Dan Brown, edisi bahasa Indonesia, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
The Lost Symbol Fact #6: Simbol Circumpunct
The Lost Symbol Fact #6: Simbol Circumpunct
Lingkaran dengan sebuah titik di bagian tengah. Sebuah simbol terkuno yang memiliki banyak arti.
Di Mesir kuno, circumpunct adalah simbol Ra—Dewa Matahari.
Ilmu astronomi modern masih menggunakan circumpunt sebagai simbol matahari.
Dalam kimia, circumpunct adalah simbo untuk emas.
Dalam filsafat Timur, circumpunt merepresentasikan pemahaman spiritual Mata Ketiga, mawar suci dan tanda penerangan. Penganut mistik kuno menyebutnya sebagai Mata Tuhan. Penganut Phytagoras menggunakan simbol circumpunct sebagai simbol Monad—Kebenaran Suci, The Prisca Sapienta, at-one-ment (penyatuan) benak dan jiwa.
Circumpuct pada dasarnya adalah simbol Misteri Kuno
Dalam idiom simbologi, circumpuct adalah simbol tertinggi yang mengalahkan semua simbol lainnya. Simbol tertua dan paling universal, menggabungkan semua tradisi kuno dalam satu gambar soliter tunggal. Circumpunct, Simbol Sang Sumber. Asal Muasal Segalanya.
Masukan ini dipos pada Januari 27, 2010 2:44 pm dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Dan Brown, edisi bahasa Indonesia, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
The Lost Symbol Fact #5: The House of Temple
The Lost Symbol Fact #5: The House of Temple
The House of Temple dikenal diantara saudara Mason sebagai Heredom. Dengan atap berbentuk piramida berlereng curam, nama gedung itu berasal dari gunung khayalan di Skotlandia.. Heredom berasal dari bahasa Yunani Hieros-domos, artinya Rumah Suci.
Bangunan kolosal yang terletak di 1733 Sixteenth Street NW Washington DC, hanya beberapa blok dari Gedung Putih, merupakan replika kuil pra-Kristen—kuil Raja Mausolus, mausoleum asli … tempat tinggal setelah kematian. Di luar pintu masuk utama, dua patung sphinx berbobot tujuh belas ton menjaga pintu-pintu perunggu. Bagian dalam bangunan berupa labirin berhias yang terdiri atas bilik-bilik ritual, lorong-lorong, ruang-ruang penyimpanan terkunci, dan bahkan sebuah rongga dinding yang berisi sisa-sisa dua kerangka manusia.
Perpustakaannya adalah yang tertua di Washington DC, menyimpan seperempat juta buku, juga memajang perhiasan-perhiasan Mason yang berharga, artefak-artefak ritual, bahkan buku langka yang dicetak tangan oleh Benjamin Franklin. Tak ada ruangan yang menyimpan rahasia sedalam setiap ruangan di The House of Temple.
Masukan ini dipos pada Januari 26, 2010 1:36 am dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Dan Brown, edisi bahasa Indonesia, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
The Lost Symbol Fact #4: 33 Angka Suci?
The Lost Symbol Fact #4: 33 Angka Suci?
Pendiri bangsa Amerika konon sangat meyakini hal-hal berbau mistis. Entah kenapa misalnya, batu puncak Monumen Washington dibuat dengan berat tepat 3300 pon (1500 kilogram). Kenapa 3300 pon?
Tradisi mistis meyakini angka 33 adalah angka suci. Pada masa Pythagoras, tradisi numerologi menganggap 33 angka sebagai angka tertinggi, angka suci menyimbolkan Kebenaran Suci. Bukan kebetulan jika orang Kristen diberi tahu bahwa Yesus disalib pada usia 33 walaupun tidak ada bukti historis nyata tentang hal itu.
Isaac Newton–ilmuwan yang lekat dengan mistisme–menemukan sistem pengukur suhu berdasarkan fenomena alam, memilih 33 derajat sebagai suhu suhu air mendidih.
Tradisi itu bertahan dalam Persaudaraan Mason … dan di tempat-tempat lain. Tiga puluh tiga adalah derajat tertinggi dalam Persaudaran Mason.
Tulang belakang manusia tersusun tepat dari 33 tulang. Dasar tulang belakang atau sacrum, secara harfiah berarti “tulang suci”. Kaum Mason memahami tubuh manusia adalah sebuah kuil, sedangkan ilmu pengetahuan yang dihormati kaum Mason, dipahami sebagai pemahaman kuno mengenai cara menggunakan kuil untuk tujuan tertinggi dan termulianya.
Masukan ini dipos pada Januari 25, 2010 1:29 am dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Dan Brown, edisi bahasa Indonesia, fakta seru, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
The Lost Symbol Fact #3: Apotheosis of Washington
The Lost Symbol Fact #3: Apotheosis of Washington
Lukisan terbesar di US Capitol Washington adalah lukisan dinding seluas 433 meter persegi yang menuntupi kanopi Rotunda Capitol: The Apotheosis of Washington yang dikenal sebagai “Michaelangelo-nya Capitol”. Diselesaikan pada 1865 oleh Constantino Brumidi, ia menorehkan namanya di Rotunda Capitol sama seperti Michaelangelo di Kapel Sistine.
Apotheosis secara harfiah berarti ‘perubahan yang bersifat ketuhanan’ – dari manusia menjadi Tuhan. Apotheosis of Washginton dengan jelas menggambarkan George Washington sedang ditransformasikan menjadi dewa. Berjubah putih, George Washington terangkat di atas awan dikelilingi tiga belas bidadari, serta serangkaian gambar anarkonis aneh: dewa-dewa kuno memberikan pengetahuan maju kepada para bapak bangsa Amerika:
Minerva memberikan inspirasi teknologi.
Vulcan mengilhami Amerika mendirikan mesin uap.
Neptunus memberi ilham tentang jalur kabel transatlantik.
Ceres membuka jalan terobosan baru pertanian.
The Apotheosis of Washington menyiratkan para bapak bangsa Amerika menerima kebijakan agung dari dewa-dewa. Menurut Dan Brown, penggambaran The Apotheosis of Washington menjelaskan bahwa pengetahuan adalah KEKUATAN, dan pengetahuan yang tepat memungkinkan manusia melakukan tugas-tugas ajaib, hampir menyerupai dewa.
Masukan ini dipos pada Januari 25, 2010 1:26 am dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) edisi bahasa Indonesia, fakta seru, The Lost Symbol. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
COVER MISTERI: Tantangan dari Dan Brown untuk pembaca The Lost Symbol
COVER MISTERI: Tantangan dari Dan Brown untuk pembaca The Lost Symbol
Di awal kisah The Lost Symbol, Dan Brown menyuguhkan adegan pembuka ketegangan mendebarkan berupa kemunculan TANGAN MISTERI yang mengajak pembaca mulai mengikuti Robert Langdon memecahkan satu per satu pesan-pesan rahasia yang rumit.
Robert Langdon dengan cepat mengenali simbol-simbol yang tergambar pada ujung-ujung jari tangan:
Simbol Mahkota: pada ibu jari
Simbol Bintang: pada jari telunjuk
Simbol Matahari: pada jari tengah
Simbol Lentera: pada jari manis
Simbol Kunci: pada jari kelingking
Tangan misteri adalah sebuah panggilan suci, sebuah undangan penting yang tidak hanya merupakan kehormatan besar, tetapi juga menandakan penerima undangan adalah master yang patut menerima kebijakan tersembunyi. Lebih dari itu, selama berabad-abad, tangan misteri berfungsi sebagai panggilan mistis.
Itu di dalam buku, di dalam cerita.
Di luar cerita, di COVER buku The Lost Symbol, Dan Brown juga menyuguhkan pesan-pesan dan teka-teki yang bisa dipecahkan.
Dan … sekarang giliran Anda-lah yang memecahkan teka-teki itu.
TEMUKAN KODE-KODE RAHASIA di COVER buku THE LOST SYMBOL.
Ya!! Ini adalah KUIS untuk semua!!!
Berhadiah:
T-SHIRT keren The Lost Symbol untuk 5 pemenang
Hadiah Hiburan: Gantungan HP, Kalender The Lost Symbol, dan novel terbaru dari Mizan untuk 10 pemenang.
TEMUKAN pesan-pesan rahasia yang tersembunyi di COVER buku The Lost Symbol (Indonesia) sebanyak-banyaknya, dan kirim ke:
pembaca@thelostsymbolindonesia.com sebelum 13 Maret 2010
Kami tunggu jawaban Anda!!!
Masukan ini dipos pada Februari 22, 2010 11:00 pm dan disimpan pada Info Buku dengan kaitan (tags) Cover, Kuis. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.












