BERKKARYA SECARA MANDIRI

Berkarya secara mandiri
sekarang bukan lagi saatnya untuk di tindas atas sebuah hasil dari dewa legenda dalam sebuah fabel. Tapi sekarang bagi kita waktunya berkarya dengan apa adanya yang ada dalam diri kita, liberalis bukan isme, fasis bukan patokan, rasis sudah tak berlaku, idelis sudah jauh dari pandangan orang bermakna.
Hasilnya gimana kita juga toh, kita yang berkarya bukan mereka yang hanya bisa menilai tanpa adanya suatu bukti dan makna bahwa dia bisa berbuat seperti kita. Tidak musim sekarang untuk menilai hasil karya orang lain, tidak beretika menjiplak hasil karaya orang lain, plagiator orang bilang. basa-basi tong kosong sudah tidak lagi bermakna tanpa adanya sarung kemaknaan yang memberi mereka makna.
Waktunya do it our self by our selves (lakukan yang kita lakukan oleh kita sendiri) bukannya berlomba-lomba menjadi algojo dalam arena pertarungan karena sebuah permasalahan yang hanya untuk di perkelahikan oleh anak kecil, bukan saatnya menindas yang lemah karena dia lemah dan yang menindas kuat, karena realitanya berbanding tebalik 360® di bawah garis laut utara dan matahari selatan yang terlalu pagi dalam menyinari bumi yang sehingga raga mudah terbakar. Yang ditindas saatnya berkuasa.
bukan lagi zamannya untuk berpikir bahwa abad ini berada dalam control sebuah pihak yang berkuasa, berpikir bahwa esok adalah sebuah ukiran batu nisan yan harus di ukir dengan keringat dan darah di bawah perintah materil hijau tersebut, tapi sehrusnya berpikir bahwa sekarang adalah pola pikir yang tuhan berikan dengan pola sebuah butiran batu air.
kenapa di dunia di saat jalan lurus selalu ada sebuah hambtan resistor dengan kekuatan 666 volt berbentuk setengah segitiga bernamakan stagnansi dari sebuah upacara pembukaan di atas sebuah drama musical dengan music penyambutan pelepasan malaikat edisi ke 666.
Secera logika dan fakta yang kurang bermakna dari sebuah carita fabel untuk rakyat jelta bahwa apa yang seharusnya jadi miliki kita akan kembali pada kita, tak usah berpikir dengan cara jauh lebih efektif tapi hasil kurang objektif. Lebih baik melakukan apa yang sekarang kita bisa lakukan.
Petuah kini menjadi cermin untuk berkaca diri dalam masa depan, karena zaman sekarang selalu terbayangi penyakit latah yang kurang jauh dari kata berfungsi. Selintaspun kita tahu kalau latah itu tidak sempurna, karena seharusnya kita bisa mandiri dengan apa yang kita miliki, dengan hal yang kita hafal secara lisan. Teman yang seharusnya bisa berada disisi denga segala ocehan cerita sebelum tidur bertujuan untuk membantu berkarya tetapi hati justru lebih berniat untuk menusuk dari belakang, lebih baik kita lupakan untuk sementara dan mulai mencari jati diri bersama-sama seruan “hayya bil jihad” dan akhirnya justru yang kita temukan adalah diri kita sendiri dalam bentuk jasad yang berbeda.
Ternyata pada akhirnya setelah kalian tahu secara lafal dan mantap ternyata tidak lebih hina dengan hasil orang daripada hasil sendiri
Mandiri...

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58 :59 :60 :61
:62 :63

Poskan Komentar

thanks for apresiasi